see no evil, hear no evil, say no evil

see no evil, hear no evil, say no evil

Kamis, 27 Maret 2014

Artikel Blue Velvet

Fantasizing the Father in  Blue Velvet

 

A Different Kind of Separation?

Chastened by the failure of Dune(1984) and his sense that he had lost control of the film, Lynch returned to a smaller scale for his next proj­ect. He vowed never again to give up final cut on a picture, and this ne­cessitated making films for less money. But one could not imagine a more resounding response to critical and popular failure thanBlue Vel­vet (1986). It became Lynch's signature film: if someone knows only one Lynch film, chances are that the film is Blue Velvet. After it appears, David Lynch became David Lynch - a cinematic auteur. He even re­ceived another Academy Award nomination for Best Director. No prior or subsequent film generated as much popular and scholarly in­terest or as much criticism (among feminists for the violence toward women, among conservatives for the perverse image of small-town America, and among Marxists for the seeming nostalgia for the 1950s). The interest almost inevitably focused on the conspicuous division be­tween two opposing worlds that Lynch creates in the film.

Imaji Gender Wanita Cina yang Indonesia

Imaji Gender Wanita Cina yang Indonesia

Oleh: Anne Shakka-136322013
 



Pengantar
Bertahun-tahun dalam hidup saya, Kartini menjadi suatu gambaran perempuan ideal yang didengung-dengungkan oleh banyak orang di sekitar saya. Gambaran untuk menjadi seorang ibu dan seorang istri yang baik. Suatu gambaran yang ternyata diwacanakan oleh negara seperti yang dikatakan Julia I. Suryakusuma dalam artikelnya Seks, Posisi Birokratis[1]. Dalam Artikel itu Julia menjelaskan bahwa negara ikut campur dan melembagakan seksualitas para pegawai negeri sipil dengan Peraturan Pemerintah no. 10 tahun 1983. Pembentukan dan penyebaran citra tersebut juga dilanggengkan dengan dibentuknya Darma Wanita dan PKK.

Selasa, 25 Maret 2014

DUALISME NARASI SEJARAH PAPUA

DUALISME NARASI SEJARAH PAPUA




  NAMA MAHASISWA  : EFRAIM MANGALUK
NIM           : 136322002
                                 DOSEN PENGAMPU       : 1. Dr. G. Budi Subanar, S.J.
                                      2. Dr. Katrin Bandel




Pengantar

Pada tanggal 6 Oktober tahun 2000, aparat kepolisian dan brimob dibantu TNI melaksanakan operasi penurunan bendera bintang kejora di kabupaten Jayawijaya-Papua yang saat itu dipimpin langsung oleh kapolres Jayawijaya AKBP Superintendent D. Suripatty. Penurunan bendera dilakukan secara paksa karena mendapat perlawanan dari para satgas Papua pada saat itu. Dampak dari operasi tersebut membuat geram para satgas dan masyarakat pro kemerdekaan Papua yang akhirnya memicu konflik hebat antara mereka aparat TNI Polri. Dalam peristiwa ini masyarakat sipil pun menjadi korban. Kurang lebih 30 warga sipil tewas dalam peristiwa ini. Peristiwa yang sangat di kenal dengan sebutan “wamena berdarah” ini menimbulkan trauma-trauma mendalam bagi masyarakat yang terlibat langsung dengan peristiwa tersebut. Ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa tentang masalah pemisahan Papua dari NKRI.

Kamis, 20 Maret 2014

Hindhuisme di Indonesia Modern

Hindhuisme di Indonesia Modern
Martin Ramstedt (ed.)
 Di 
Menegosiasi Identitas - Orang-orang Hindu Indonesia
antara lokal, nasional, dan kepentingan global

Dipresentasikan Oleh 

Yohanes Padmo Adi 
Thomas Cahyo Susmawanto


Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa,
bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,
mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa.
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda,
mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal,
Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.
(Kakawin Sutasoma, Canto CXXXIX, 5 - Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5)

Bhinneka tunggal ika adalah motto dari Republik Indonesia. Diambil oleh Bapa Bangsa dari warisan Hindu-Jawa, sama seperti lambang negara, Garuda (kendaraan Dewa Wisnu), untuk menginspirasi persatuan nasional. Motto itu diambil dari Kakawin Sutasoma, sebuah epos Buddhis dari abad keempat belas, yang dikarang oleh seorang penyair Hindu-Jawa terkenal, Mpu Tantular, di sebuah Kerajaan Majapahit (Wilwatikta) yang pusatnya terletak di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Jawa Timur.
Meskipun imaji kebesaran Majapahit menjadi inspirasi para nasionalis Jawa pada saat itu ketika membangun konsep Indonesia merdeka, dan meskipun imaji itu berpengaruh pada perkembangan Hinduisme Indonesia modern, intensi Martin Ramstedt (editor buku ini) lebih kepada menunjukkan isu “beraneka ragam tetapi tetap satu jua” yang tak pernah selesai tersebut, yaitu sebuah situasi yang sedang dan terus berlangsung di mana pluralisme agama dan budaya (penekanan pada “keanekaragaman”) dikontraskan dengan keseragaman agama dan budaya (penekanan pada “kesatuan”), sebagai penentu yang paling penting bagi masa lalu dan masa depan perkembangan Hindu Dharma di negara-bangsa Indonesia modern.

Selasa, 18 Maret 2014

FUNGSI HAND PHONE DI DAERAH TANPA SINYAL

FUNGSI HAND PHONE  DI DAERAH TANPA SINYAL

 Oleh:
Yekti Suskandari
136322020
                       
Telepon genggam atau lebih dikenal dengan sebutan hp saat ini memang sudah merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh anggota masyarakat, bisa dikatakan masyarakat tak bisa hidup tanpa hand phone. Berbagai merek dan jenis hand phone yang beredar di masyarakat selalu diminati, bahkan tak jarang lounching produk hanphone merek terentu selalu dibanjiri oleh masyarakat, mereka rela antri demi mendapatkan produk seri pertama.

KEBERHASILAN MISI ISLAMISASI DI DISTRIK WALESI KABUPATEN JAYAWIJAYA-PAPUA

KEBERHASILAN MISI ISLAMISASI DI DISTRIK WALESI KABUPATEN JAYAWIJAYA-PAPUA


                          NAMA MAHASISWA      : EFRAIM MANGALUK
                                           NIM                    : 136322002
                             DOSEN PENGAMPU   : 1. Dr. G. Budi Subanar, S.J.
                                                                          2. A. Bagus Laksana, S.J., Ph.D.
                                                                         
PENGANTAR

Sebuah desa kecil yang terletak di wilayah selatan kabupaten Jayawijaya, memiliki pemandangan yang tidak lazim. Ketika desa-desa yang lain sangat kental dengan bau kekristenan, maka desa yang satu ini tampak berbeda. Suasana keislaman begitu tercium ketika orang-orang berkunjung ke desa tersebut, baik yang hanya sekedar menikmati keindahan alam, bahkan mereka yang memang penasaran dengan keunikan desa tersebut. Inilah desa Walesi, satu-satunya desa di kabupaten Jayawijaya bahkan seantero Papua yang memiliki penduduk pribumi beragama muslim. Ketika berbicara tentang agama di Papua, maka yang terlintas di pikiran adalah kekristenan. Hampir seratus persen kabupaten yang tersebar di provinsi Papua, penduduk pribuminya beragama kristen dan katholik. Maka ketika ada seorang Papua yang menganut agama lain, maka orang tersebut akan tampak berbeda – ibarat sebuah titik hitam yang tampak jelas terlihat disebuah lembar kertas putih.
Memang sangat terlihat aneh ketika melihat penduduk desa tersebut melakukan aktifitas keagamaannya, kaum pria memakai peci dan yang wanita memakai jilbab, berduyun-duyun menuju masjid untuk melaksanakan ibadah. Mungkin bagi sebagian orang pendatang yang sudah mengetahui keislaman orang-orang kulit hitam di daerah Afrika, memiliki kesan yang biasa ketika melihat masyarakat di Walesi yang “islam”. Tetapi bagi orang-orang Papua sendiri, juga termasuk pendatang yang memang lahir dan besar di Papua pasti memiliki kesan yang aneh melihat masyarakat Walesi yang “islam” tersebut.

Senin, 17 Maret 2014

Jadwal Kuliah Semester Genap TA.2013/2014

PENGUMUMAN

Jadwal Kuliah Semester Genap TA.2013/2014
27 January 2014

HARI

WAKTU

KODE MK
MATA KULIAH
DOSEN
KELOMPOK MK
SKS
RUANG

SENIN

08.00 – 11.00
PSIRB 104
Metodologi Penelitian Kajian Budaya
A. Bagus Laksana, S.J., Ph.D.
Prof. Dr. A. Supratiknya
Wajib
(Semester 2)

3
Palma
12.00 – 15.00

PSIRB 306
Seminar Penulisan Tesis
Dr. St. Sunardi
Prof. Dr. A. Supratiknya
Dr. Katrin Bandel

Wajib
(Semester 4)

0
Palma
12.00 – 15.00

PSIRB  701
Seminar I:
Pengantar Estetika: Estetika dari Wilayah Konflik
Dr. G. Budi Subanar, S.J.
Rachmi Diyah Larasati, Ph.D
Pilihan
(Semua semester)

3
Lontar

SELASA

08.00 – 11.00
PSIRB 204
Kajian Budaya II
Dr. St. Sunardi
Dr. Katrin Bandel
Wajib
(Semester 2)

3
Palma
12.00 – 15.00

PSIRB 102
Filsafat Ilmu Pengetahuan:
Hermeneutika dan Analisa Wacana Kritis
Dr. J. Haryatmoko, S.J.
Pilihan
(Semua semester)

3
Palma

RABU

12.00 – 15.00


PSIRB 702
Seminar II:
Kajian Kawasan dan Etnografi Asia Tenggara
Dr. Alb. Budi Susanto, S.J.
Pilihan
(Semua semester)

3
Palma

KAMIS

08.00 – 11.00


PSIRB 205
Kajian Religi
Dr. G. Budi Subanar, S.J.
Dr. FX. Baskara T.Wardaya, S.J.
Wajib
(Semester  2)

3
Palma
12.00 – 15.00


PSIRB 606
Sastra dan Politik Identitas
Dr. Katrin Bandel
Pilihan
(Semua semester)

3
Palma