see no evil, hear no evil, say no evil

see no evil, hear no evil, say no evil

Kamis, 06 Maret 2014

Catatan Hermeneutika Selasa, 11 Januari 2014



Catatan Hermeneutika
Selasa, 11 Januari 2014


Pengantar
ü  Di sekitar kita banyak terjadi kekerasan Simbolik. Kekerasan Simbolik (bahasa dan representasi, yang memposisikan sebagai yang salah) adalah pintu masuk ke dalam kekerasan psikis dan fisik.
ü  Dekonstruksi dipahami sebagai memaknai apa yang dipinggirkan/dibungkam/dimarginalisasikan di dalam teks. Melawan regim kepastian bahwa makna itu tunggal/makna itu satu. Dekonstruksi yang berhasil adalah ketika pembaca terasing dari teks.
ü  Pertanyaannya kemudian, Bagaimana mengangkat yang selama ini didiamkan/diabaikan? Asumsinya adalah bahwa makna itu jamak dan yang didiamkan berarti.
ü  Teori Implicature:
a.       Pencarian inkonsistensi/inkoherensi
b.      Pengandaiannya bahwa teks itu sudah mengandung virus

Tiga Jenis Hermeneutika
1.     Hermeneutika sebagai Metode atau Seni Memahami / Klasik / Romantis
Tokohnya: Schleiermacher, Dilthey, Droysen
ü  Mencari maksud pengarang
ü  Kelemahan metode ini: psikologisme (seolah-olah mengakui psikologi pengarang)
ü  Membatasi kekayaan suatu makna
ü  Ada istilah otonomisasi teks
2.     Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial
Tokohnya: Husserl, Heideger, Gadamer, Ricoeur
ü  Istilah kunci “Intensionalitas”: kesadaran Subjek selalu mengarah ke objek. Objek selalu menampakkan diri ke subjek.
ü  Implikasi bagi teks: kita tak bisa mengatakan tergantung siap ayang menafsirkan. Karena teks mempunyai logika dan gramatika tersendiri. Terbukti dari analisis Greymas. Di dalamnya teks ada hubungan intern...
ü  Tiga yang mempengaruhi penafsiran:
1)     Vorhabe: latar belakang
2)     Vorsicht: sudut pandang masing-masing
3)     Vorgriff: perbendaharaan kata yang sudah dipunyai
ü  Tiga Aspek Bahasa:
1)     Locutionary: bahasa selalu mempunyai maksud/makna
2)     Illocutionary: bahasa selalu mempunyai implikasi terhadap yang berbicara atau yang menulis/yang berbuat (entah bentuknya janji, perintah, ajakan)=>pernyataan performatif
3)     Perlocutionary: bahasa mempunyai efek terhadap pendengarnya
3.     Hermeneutika Kritis
Tokohnya: Habermas (the logic of social sciences), Foucault, Bourdieu, Derrida
ü  Peralihan dari Hermeneutika fenomenologis-eksistensial ke Hermeneutika kritis nampak dalam pemikiran Gadamer dan Habermas.
ü  Gadamer: pengetahuan bersifat kebahasaan
ü  Habermas: tidak semua pengetahuan bersifat kebahasaan (bawah sadar, mimpi), bahasa tak sekedar mengungkapkan fakta tapi cara melakukan sesuatu.

SCHLEIRMACHER (HERMENEUTIKA: SENI MEMAHAMI)
ü  Seni untuk memahami ini berlaku untuk semua teks dokumen legal, karya sastra.
ü  Teks adalah wacana yang terpateri dalam tulisan terumus melalui bahasa
ü  Dalam setiap teks (dokumen), gagasan umum berinteraksi dengan gramatika untuk membentuk makna. Gramatika digunakan untuk menemukan makna dalam kalimat, alinea atau bab
ü  Pemahaman merupakan hubungan dialogal pewicara, yang membangun kalimat untuk mengungkap makna bagi pengendengar/pembaca
Menafsirkan = Merekonstruksi
·         Menafsirkan berarti merekonstruksi proses mental pengarang, mereproduksi makna yang dimaksudkan oleh pengarang. Intuisi harus tajam.
·         Penafsir dituntut untuk merekonstruksi semua bagian-bagiannya seakan sebagai pengarangnya. Untuk bisa memahami bagian-bagiannya harus bisa mengerti keseluruhannya. Keseluruhan mengasalkan maknanya dari bagian-bagiannya
·         Harus ada dialog dengan teks, bertanya pada teks dan membiarkan diri ditanyai oleh teks, dan mencari kembali apa yang mau dikatakan oleh teks.
·         Sebelum mengungkapkan makna, teks adalah ungkapan jiwa atau suatu interioritas, maka perlu memahami psikologi pengarang.

Praktek Longgar dan ketat
ü  Praktek Longgar berangkat dari gagasan bahwa pemahaman dapat terjadi dengan sendirinya dan mengungkapkan tujuan dengan rumusan negatif (“kekeliruan dalam pemahaman harus dihindari”)
ü  Praktek ini hanya menerapkan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan bagian-bagian yang tidak jelas
ü  Praktek ketat berangkat dari kenyataan bahwa kesalahpahaman terjadi dengan sendirinya dan setiap titik pemahaman harus diusahakan dan dicari. Maka diperlukan aturan yang ketat dalam teknik penafsiran

Praktek ketat
ü  Penafsiran Gramatika: berlangsung dengan menempatkan pernyataan sesuai dengan aturan-aturan objektif dan umum (gaya bahasa khas)
ü  Memahami diperoleh dari bahasa dan sebagai fakta yang ada dalam pemikiran pewicara. Momen bahasa adalah wilayah penafsiran gramatika. Ini merupkaan prosedur dalam menentukan batas negatif dan umum di mana struktur pemikiran ditentukan
ü  Penafsiran Psikologis: memfokuskan pada yang subyektif dan individual (pengarang, kekhasan geniusnya). Maka penafsir dituntut bisa menempatkan dalam situasi yang sama dengan pengarang. Bag teks= fakta pengarang.
ü  Divinasi (Divinare=menebak) apa yang sebetulnya diinginkan pengarang

Noumena dan Fenomena Akar Hermeneutika Romantik
ü  Latar Belakang pengaruh hermenutika romantis adalah Noumena dan Fenomena
ü  Menurut Kant, tatanan rasional yang dipercaya ada di alam tidak lain merupakan dunia fenomena.
ü  Fenomena bisa nampak dengan menggunakan kategori kategori (skema a priori pemikiran)
ü  Noumena (das ding an sich) berada dalam tatan yang tidak bisa dikenali. Pembedaan fenomena dan noumena menjadi akar hermeneutika romantik.
ü  Pintu masuk untuk memahami dunia (teks) dijangkau melalaui persepsi atau penafsiran subyektif
ü  Refleksi dasariah harus memulai dari subyek itu sendiri

Kelemahan dari Hermeneutika Romantik:
1.      Mengandaikan adanya transparansi diri yang mustahil sebag setiap orang kesulitan untuk mengenal diri sendiri apalagi orang lain (memasuki jiwa pengarang)
2.      Makna teks menjadi sangat miskin (tergantung pengarang) padahal teks itu otonom (lihat otonomisasi teks)
3.      Tidak bisa diterapkan untuk tulisan-tulisan “pseudoname” atau tulisan yagn tidak diketahui konteksnya

DILTHEY DAN KESADARAN SEJARAH
ü  Dari hermeneutika dicari pendasaran ilmu-ilmu humaniora, semua disiplin ilmu yang menafsirkan ungkapan kehidupan manusia (hukum, sejarah, sastra, antropologi)
ü  Pengalaman konkrit, historis dan dihayati kemudian menjadi awal dan akhir disiplin ilmu ini.
ü  Pemikiran tidak bisa melampaui kehidupan itu sendiri. Romantis=>kembali ke hidup itu sendiri.
ü  Upaya menemukan dasar metodologi ini:
1)     Masalah epistemologi (filsafat ilmu pengetahuan: mempertanyakan bagaimana manusia mengetahui atau bagaimana manusia bisa mengetahui)
2)     Memperdalam konsepsi tentang kesadaran sejarah.

Pengalaman yang Dihayati
ü  Melalui sejarah, manusia bisa mengenal dirinya (penjelasan jejak-jejak manusia yang terpateri dalam fenomena)
ü  Memahami: manusiaupaya untuk mendapat kembali kesadaran akan kesejarahan keberadaan manusia (yang telah hilang karena kategori-kategori ilmu pengetahuan).
ü  Bukan dengan kategori mekanis manusia menghayati kehidupan, tapi dalam momen makna yang individual dan kompleks
ü  Kesatuan makna ini menuntut konteks masa lalu dan cakrawala harapan masa depan. Kehidupan harus dipahami dari pengalaman kehidupan sendiri
ü  Pengetahuan hanya kognitif, terpisah dari perasaan/kehendak, bahkan lepas dari konteks sejarah kehidupan
ü  Kehidupan adalah realitas histori yang dihayati. Sejarah adalah ungkapan kehidupan, bukan ungkapan rasio mutlak
ü  Kehidupan:relatif dan mengungkap dalam berbagai bentuk.

Kesadaran Sejarah
ü  Kesadaran sejarah dipahamai bahwakita terbuka terhadap pra-pemahaman kita dengan mengambil jarak atau mempelajari secara obyektif visi dunia lama.
ü  Titik-tolaknya: pengalaman dari dalam fakta kesadaran, lalu penalaran memaksakan kepada obyek tatanan formal dan syarat-syarat kesahihan.
ü  Isinya berasald ari pengalaman (Erlebnis)
ü  Mencari di dalam pengalaman itu syarat-syarat obyektivis ilmu humaniora =prinsip rasio murni , kayak gagasannya Kant)
ü  Prinsipnya: seluruh realitas bisa bertahan karena kondisi kesadaran yang yang menangkapnya

Historisisme
ü  Mungkinkah kita mengembalikan masa lalu? Tidak mungkin
ü  Untuk memahami suatu semangat/mentalitas harus meletakkan dalam konteks situasi sejarahnya
ü  Hanya dengan menghindari praduga yang berasal dari jaman dan budaya kita, dengan mentransposisi dalam konteks sejarah dan budaya asal teks itu, ktia dapat menangkap makna original dan autentik.
ü  Menafsirkan berarti membuat hipotesa pembacaan, yang akan selalu dikoreksi dalam dan obyektif.
ü  Penafsir harus mengosongkan semua bentuk subyektivitas yang muncul dalam pemahaman langsung dan tergesa, yang membawa pada pemahaman superfisial dan kesalahpahaman.

Psikologi deskriptif dan komprehensif
ü  Psikologi deskriptif: fenomen kejiwaan dapat menangkap obyek dari pemahaman langsung melalui perasaan yang dihayati => memberi struktur yang kuat, langsung, obyektif
ü  Psikologi komprehensif: titik-tolaknya adalah konteks seluruh hidup yang dirasakan langusng, melukiskan kheiudpan kejiwaan dalam struktur keseluruhan asali.

Erlebnis (pengalaman yang dihayati)
ü  Kesatuan yang mempunyai makna umum, misalnya, cinta
ü  Terdiri dari berbagai pengalaman, berbagai perjumpaan, berbagai peristiwa lalu membentuk satu kesatuan
ü  Terdiri dari berbagai pengalaman yang dipisahkan oleh waktu dan tempat, lalu menyatukan di dalam kesatuan makna.
Ciri-ciri Kesatuan Makna:
1.      Pengalaman bukan isi kesadaran refleksif, tapi tindakan itu sendiri (noese-noeme)
2.      Pengalaman ada sebelum ada pemisahan antara subyek dan obeyek (pra-pemahaman dari Hiedegger?)
3.      Pengalaman rekoleksi masa lalu dan antisipasi masa depan. Konteks temporal: cakrawala yang tidak bisa dihindari (bukan kategori tapi intrinsik dalam kehidupan)
4.      Jadi penafsiran yang tidak historis tidak bisa dipertanggungjawabkan

Ekspresi (Ausdruck)
1.      Gagasan, hukum, lembaga sosial, bahasa merupakan sesuatu yang mencerminkan kedalaman hidup manusia
2.      Obyektivasi pikiran, pengetahuan, perasaan, kehendak
3.      Refleksi langsung: intuisi yang tidak dapat dikomunikasikan, konseptualisasi ungkapan hidup.

Tiga Kategori Obyektivasi Pengalaman
1.      Gagasan (konsep, penilaian) adalah isi pemikiran yang mandiri terhadap waktu
2.      Tindakan sulit ditafsirkan karena ada tujuan tertentu
3.      Ungkapan pengalaman yang dihayati dari ungkapan hidup spontan (seruan, sikap, ungkapan dikontrol)
ü  (1&2) manifestasi kehidupan
ü  (3) ungkapan hidup yang dihayati
ü  karya seni tidak menunjuk pada pengarangnya tapi pada kehidupan itu sendiri
ü  dalam karya besar, visi (ein geistiges) dibebaskan dari penciptanya, seniman, penulis.

Transposisi=Rekonstruksi
ü  Transposisi merupakan sebuah rekonstruksi dan pengalamna kembali tehradap pengalaman dunia orang lain
ü  Kepentingannya bukan pada orang lain, tapi dalam dunia sendiri, dunia yang dilihat sebagai dunai sosial sejarawi=> sebuah pengalaman bersama akan keindahan.
ü  Kita mampu menembus dunia dalam dan melalui introspeksi, tapi melalui penafsiran, melalui pemahaman akan ungkapan kehidupan.

Langkah Penafsiran Hermenutika Romantis
1.      Dialog dengan teks dan gramatika: untuk mengerti seluruh teks harus  tahu bagian-bagiannya dan sebaliknya. Penafsiran gramatika: gaya bahasa, penggunaan kata, hubungan antar kalimat, alinea, bab...
2.      Penafsiran psikologis: merekonstruksi mental pengarang, mereproduksi makna yang dimaksdukan karena teks=>ungkapan jiwa pengarang (divinasi). Maka harus masuk ke situasi pengarang.
3.      Kesadarang sejarah: masuk ke mentalitas jamannya
Titik tolaknya: pengalaman dari dalam, fakta kesadaran.
4.      Refleksi psikologis mendasar (deskriptif dan komprehensif): menghindari praduga jaman dan budaya kita sekarang, mengosongkansemua subyektivitas. (aspek reflektif dan eksistensial, karena kritis dengan diri...)

Latihan Teks Kartini:
1.      Apa yang diperjuangkan Kartini:
2.      Apa yang menghambat perjuangan Kartini:
3.      Bagaimana mengatasi hambatannya
Dua teks ini membantu mencerahkan apa?
·         Konteks historis menyumbang apa?
·         Konteks psikologis menyumbang apa?


HUSSERL: FENOMENOLOGI DAN HERMENEUTIKA
Fenomen dan Intensionalitas
ü  Fenomen: realitas yang sesungguhnya, “ada” yang menampakkan diri, “realitas” yang tampak
ü  Fenomenologi: pengetahuan diskursif dan teoritis hasil dari kesadaran. Kesadaran adalah cermin di mana fenomena merefleksi diri, mengungkap diri.
ü  Obyektif bukan apa yang ada pada dirinya, terpisah dari subyek, tapi sesuatu dimana subyek yang memahami.
ü  Tidak ada obyektivitas tanpa subyek, dan tidak ada obyek yang nampak tanpa suatu pandangan
ü  Intensionalitas (struktur hakiki kesadaran):Kesadaran selalu kesadaran akan.... dan fenomen (obyek) selalu menampakkan diri kepada subyek.
ü  Text Box: Struktur Pengetahuan:
Subjek     Objek
 Kant: 12 kategori => Fenomena => Noumena (=realitas, teks)
 Husserl: Kesadaran => Fenomena (realitas, teks)
Intensionalitas memberi makna kepada dunia. Tidak ada dua realitas substansial.
 

Konstitusi
ü  Proses penampakan fenomena kepada kesadaran. Fenomena mengkonstitusikan diri dalam kesadaran. Contoh: menggambar dua gunung..., keluarga mempunyai tiga anak, ketiganya rabun...
ü  Aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Dunia real dikonstitusikan oleh kesadaran. Konstitusi=Eksplisitasi
ü  Tidak ada kebenaran pada dirinya, lepas dari kesadaran, kebenaran hanya mungkin dalam korelasi dengan kesadaran (sintesa persepsi gunung=>konstitusi)
ü  Konstitusi bukan penciptaan makna, tapi eksplisitasi makna
ü  Dalam setiap pemahaman ada endapan historis di dalamnya => proses yang mengakibatkan fenomen menjadi real dalam kesadaran =>proses historis
ü  Dalam Proses historis terjadilah:
o   Noese: tindakan membidik makna
o   Noeme: makna yagn dibidik, yang sudah terkandugn dalam noese
ü  Maka, penafsiran menjadi proyeksi pra-pemahaman.
ü  Solusinya: 1)Epche, 2)reduksi, dan 3)intersubjektivitas.

Epoche dan Reduksi => menunda kebenaran
ü  Epoche: peristiwa virtual, tindak fiktif yang memulai permainan yang menukar tanda dengan tanda lain.
ü  Sederhananya, tindakan menunda untuk tidak percaya begitu saja pada yang dilihat, dirasa, dialami => menempatkan dalam tanda kurung dunia/kepercayaan kita akan eksistensi dunia
ü  Memungkinkan untuk memahami subyek sebagai transenden atas dunia => mau menyingkap ego transedental supaya terbeberkan.
ü  Ego: subjektivitas yang tampak membentuk dunia dan hubungan yang diterapkan dengannya
ü  Transendental: ego tak tergantung ruang dan waktu tapi tergantung pada subjektivitas itu sendiri.

Macam-macam reduksi untuk sampai pada yang benar
ü  Reduksi: kembali pada “hal-hal”nya sendiri, yaitu apa yang dihayati kesadaran
1.      Reduksi fenomenologis
ü  Upaya untuk mendapatkan fenomen-fenomen dalam bentuk yang murni dengan menyingkirkan yang subyektif
2.      Reduksi eidetis
ü  Upaya memperoleh eidos (esensi) dengan menyingkirkan semua yang aksesoris atau yang bukan esensi dengan variasi imajinatif. Bukan abstraksi, tetapi menyadari cara bagaimana esensi memberi diri untuk dilihat
3.      Reduksi transedental
ü  Bentuk keterarahan subyek atau apa yang dihayati oleh kesadaran. Aku yang empiris diletakkan dalam tanda kurung untuk mencapai aku yang sejati.
ü  Kesadaran menjadi dominan (subjektif), kritik: idealisme subjektif

Metode Variasi Imajiner (nantinya diambil alih oleh Ricoeur dengan analogi permainan)
Mulai dari kesadaran bahwa memahami esensi fenomena perlu metode:
ü  Mulai dengan obyek yang sudah didefinisikan, lalu dibuat variasi secara sistematik aspek-aspeknya yang membentuknya sesuai dengan gambar dan pengertian yang kita milki.
ü  Aspek-aspek mana bila dihilangkan atau diubah akan mengakibatkan perubahan bentuk atau hilangnya identitas obyek tersebut
ü  Unsur-unsur penting yang tidak dapat berubah itu adalah esensi (eidos)
ü  Esensi ini universal: semua keadaran fenomenologis yang rigoris...
ü  Eidos bukan idea atau bentuk

Kembali ke hal-halnya sendiri
ü  Kesadaran ada dan nampak secara simultan ia merupakan tempat khas fenomenologis
ü  Dalam fenomen, “ada” dan “nampak” bersamaan: kesadaran memberi kemungkinan menangkap fenomena yang merupakan pengalaman dan mengelaborasi pengetahuan teoritis.
ü  Fenomenologi: kesadaran adalah cermin dimana fenomena merefleksi diri, mengkonseptualitasi dan mengungkapkan diri.
ü  Fenomenologi pengetahuan diskursif dan teori
ü  =>”Retour aux choses elles-memes” bukan positivis

Tindak Kesadaran=> Membidik Makna
1.      Noese: upaya membidik makna
ü  Tindak kesadaran untuk membidik makna yang melampaui diri untuk menuju ke sesuatu lain
2.      Noeme: yang dibidik oleh Noese, tetapi Noeme udah ada di Noese
ü  Yang dibidik yang diwadahi dalam makna intensional. Noeme imanen dalam noese dan sekaligus imanensi aktivitas kesadaran yang dibentuk sebagai di luar kesadaran (transendensi)
ü  Bidikan intensional ini yang memberi makna kepada dunia
ü  Maka kesadaran bukan membuat orang jadi penonton karena adalah relasi. Subyek: selalu dalam dunia, bukan subyek yang merefleksikan.
ü  Kalau saya menafsirkan sesuatu itu karena kita

Intersubyektivitas
ü  Argumen solipsisme(soliter) memperlihatkan miskinnya makna karena hasil dari reduksi pengalaman diri.
ü  Pengalaman direduksi pada diri membuat tidak memperhitungkan pengalaman lain/komunitas.
ü  “saya berpikir” membawa kita pada kesadaran bahwa kita memerlukan jaringan intersubyektif untuk dapat mewadahi dunia dan tidak cukup hanya “saya berpikir”
ü  subyek-subyek lain dapat masuk dalam hubungan subyek-subyek tidak hanya hubungan subyek-subyek
ü  analisa konstitusi tidak mungkin tanpa benang merah ke arah orang lain yang jugamemiliki kesadaran yang mengarah pada fenomen
ü  berpikir kritis adalah menempatkan diri pada posisi orang lain (Habermas)

Kelebihan dan Kekurangan:
ü  Kelebihan: menghargai teks karena adanya epoche
ü  Kelemahan: subjek banyak berpengaruh, masuk pada psikologisme => tak mungkin masuk jiwa pengarang secara tuntas, penafsiran menjadi miskin (tergantung sejarah).


HEIDEGGER
Aletheia
ü  Cara menampakkan “ada” disebut eksplisitasi atau penyingkapan =>aletheia (a-=tidak/tanpa, lethe=lupa dari lanthano=disembunyikan) => kebenaran
ü  Menemukan kembali makna “ada” berarti memahami bahwa kebenaran “ada”=aletheia
ü  Jadi kebenaran tidak sama dengan kesamaan antara pernyataan dan situasi realitas obyektif, bukan koherensi atau korespondensi, bukan pula ketepatan dalam makna ilmiah.
ü  Perhatian diarahkan pada bahasa, bukan wacana efektif ilmu pengetahuan
ü  Bahasa merupakan tempat berdiamnya “ada”, sejauh bahasa berbicara tentang “ada” (eksplisitasi).
ü  Berbicara adalah berbicara tentang ada. dengan kata lain, apa saya hayati adalah apa yang saya beri nama.
ü  Kata kuncinya: eksplisitas, bukan kategori

Fenomenologi sebagai Hermeneutika
ü  Tulisan Heidegger dalam metode fenomenologi penelitian (Being and Time)mengatakan metodenya adalah hermeneutika
ü  Heideger mengacu ke akar bahasa Yunani: phainomenon (phainesthai dan logos) =>yang menampakkan diri, yang menyingkap diri; sesuatu menjadi kelihatan. Logos=kekuatan yang diberikan kepada bahasa, sarana untuk dapat ditangkap sehingga kelihatan
ü  Fenomen: kumpulan yang menjadi kelihatan berkat cahaya...

Eksplisitasi melawan dogmatisme (vs)
ü  Dogmatisme adalah bentuk kesewenang-wenangan
ü  Dogmatisme adalah sesuatu dipaksa menjadi kelihatan
ü  Tapi membiarkan seusatu menjadi tampak seperti apa adanya merupakan masalah belajar untuk membiarkan halnya sendiri menampakkan diri, karena ia memberikan diri untuk dilihat, tanpa memaksakan kategori kepadanya.
ü  Logos (berbicara) bukan kekuatan yang diberikan kepada bahasa oleh penggunanya, tapi kekuatan yang diberikan kepada penggunanya, sarana untuk dapat ditangkap oleh apa yang dibuat nampak melalui bahasa tersebut.
ü  Pengakuan terhadap esensi pemahaman otentik

Hakekat pemahaman
ü  Pemahaman: kekuatan untuk menangkap kemungkinan-kemungkinan ada dirinya dalam konteks dunia kehidupan di mana ia berada
ü  Pemahaman bukan dimiliki tapi “cara ada” di dunia: bukan entitas, tapi struktur “ada” (pra-pemahaman) yang memungkinkan pemahaman pada tingkat empiris
ü  Pemahaman: dasar semua interpretasi, co-original dengan keberadaan dan hadir dalam setiap tindak interpretasi
ü  Pemahaman secara ontologis mendasari dan mendahului setiap tindak ada
ü  Memahami selalu terkait dengan masa depan dan dengan situasinya
ü  Bukan dalam menangkap situasi, tapi penyingkapan potensi konkrit ada dalam cakrawala penempatannya di dunia
ü  Lingkaran Hermeneutik: tidak menolak pandangan yang diarahkan oleh pengalaman (Dilthey), tapi ontologis “cara ada” mengandaikan “pra pemahaman”
ü  Heidegger: melihat kebenaran sebagai penyingkapan

Beberapa Catatan:
ü  Dua kebenaran:
1)     Kebenaran korespondensi: suatu pernyataan atau proposisi dikatakan benar jika sesuai dengan realitas
2)    Kebenaran koherensi
ü  Derrida: bahasa sudah mengecoh kita secara struktural
ü  Contoh: seorang siswa tidak lulus skripsi dan putus dari pacarnya
ü  Bahasa yang mengandung Hirarki Metafisik adalah sumber ideologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar