see no evil, hear no evil, say no evil

see no evil, hear no evil, say no evil

Kamis, 13 Maret 2014

Mengapa Islam Tidak Disebut Sebagai “Agama Dunia”? Catatan atas tulisan Tomoko Masuzawa Islam, A Semitic Religion


Oleh : Umi Lestari  - 136322-017


Imaji tentang Islam sebagai agama orang Semit, orang-orang Arab, sendiri dimulai sejak akhir abad 19 M. Tomoko Masuzawa melihat bagaimana imaji yang dibuat peneliti-peneliti Eropa tentang Islam pada abad 19 dalam bab  6 di bukunya The Invention of World Religions: Or, How European Universalism Was Preserved in the Language of Pluralism (2005). Pada sesi pertama ia melihat perubahan relasi antar Eropa dan dunia Muslim dan sesi ke dua ia melihat infiltrasi ide baru orang-orang Eropa sendiri mengenai Bangsa Arab.  Pada sesi 3 dan 4, Masuzawa menekankan pada penelitian Abraham Kuenen dan Otto Pfeiderer yang melihat bahwa Islam adalah agama orang Arab dan tidak termasuk dalam kelas agama-agama dunia.



Pada Mulanya adalah Perdagangan

Tentu saya masih ingat dengan Vasco Da Gama yang sering keluar dalam buku sejarah Ilmu Pengetahuan Sosial sewaktu SD. Dalam buku tersebut, Vasco Da Gama tercatat sebagai penjelajah Portugis yang menemukan jalur pelayaran ke India melalui Benua Afrika.
Berkat catatan dari Vasco Da Gama, Afonso de Albuquerque, pelaut Portugis, dapat mencapai gugusan pulau yang sekarang bernama Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Dalam sesi The Problem of Islam for Premodern and Early Modern Europe, Masuzawa menuliskan adanya pergeseran geopolitik yang monumental. [1]. Masuzawa memulai sesi ini dengan kisah Vasco da Gama atau lebih dikenal sebagai “masa penjelajahan”, cara Eropa mengeksplorasi dunia “luar”nya dan dianggap sukses dalam membangun tatanan dunia baru menurut versi mereka sendiri.

Superioritas kuasa Bangsa Muslim pada akhir abad ke 15 tampaknya membekas di benak orang-orang Eropa. Menurut Masuzawa, kekuasaan bangsa Eropa dengan kejayaan masa lalunya hanya bersifat regional. Hal itu tak dapat dibandingkan dengan kekuasaan Islam yang meluaskan daerahnya hingga ke Afrika Utara dan yang sekarang disebut Indonesia. Tetapi ada memori kolektif yang  tersimpan dalam diri Bangsa Eropa, India sebagai “a Land of Desire”. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Bangsa Eropa juga ingin menggapai “Tanah Impian” yang pada saat itu berada di tangan Islam. Selain memori kolektif, perdagangan juga menjadi alasan penjelajahan Eropa. Perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh bangsa Muslim dianggap telah merusak tatanan tersebut, termasuk tatanan perdagangan global. Persaingan dimulai dari sini. Sejak akhir abad 15 hingga Perang Dunia ke II, penguasa-penguasa Eropa berusaha sampai ke  Asia dengan mengembangkan transportasi dan strategi. Masuzawa menuliskan bahwa pada abad 15 semakin Eropa menginginkan rempah-rempah, maka akan semakin meningkat pula bisnis orang Muslim. Pada masa itu, Islam menjadi penjaga “gerbang” dari Eropa ke Asia yang menyediakan banyak rempah.

Dominasi dan monopoli Islam akan rempah-rempah membawa benih-benih permusuhan. Eropa berusaha dengan berbagai cara untuk dapat pergi ke Asia. Dalam momen ini, Portugal yang menjadi pionirnya. Portugal sebagai perwakilan dari Gereja Katholik Rhoma memiliki ambisi untuk melawan agama Muhammad. Melalui pemerintahan Pangeran Henry, era penjelajahan pun dimulai. Alasannya tidak lain adalah “to cut the root of Islam by attacking it from behind”. Selanjutnya seperti yang juga dikisahkan oleh buku-buku sejarah yang saya baca sewaktu SD, keberhasilan Portugal diikuti oleh perdagangan ala Belanda yang menguasai perdagangan di daerah koloni sejak abad 18. Benih-benih permusuhan dari sudut pandang inilah yang akhirnya berkembang hingga akhir abad 19. Ide-ide mengenai Islam sebagai “musuh”, sebagai “liyan”, menghantui pemikir-pemikir dan peneliti Barat pula.


Dikotomi Bangsa Semit dan Bangsa Aryan pada abad 19 Masehi
Pada sesi ini Masuzawa mengajak kita untuk melihat konteks sejarah kondisi Eropa dalam memahami adanya sudut pandang “agama-agama lain”. Eropa mencoba merekonstruksi Budhisme Bangsa Arya dan “mengenyampingkan” Islam. Penggunaan istilah “agama dunia” mulai berkembang pada pertengahan abad 19. Peneliti-peneliti mulai menerima Budha sebagai bagian dari agama dunia karena ia memiliki karaktestik yang universal dan mampu diterima oleh masyarakat lintas negara. Nilai-nilai universal inilah yang tidak dapat dilihat dalam Islam. Peneliti dari Barat melihat Islam itu adalah agama yang membangkang dari ajaran Judaisme yang juga melahirkan Kristen. Ajaran Budha yang dianggap universal pun selaras dengan pemikiran filsafat Barat ala Kantian[2]. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa ajaran Budha berasal dari Bangsa Arya. Inilah yang menjadi legitimasi dalam pencarian nenek moyang yang sama atas Budha dan Kristianitas.

Semangat intelektual dan elit-elit budaya di Eropa pada abad 19 berpengaruh pula pada berkembangnya ilmu-ilmu humaniora. Temuan kisah-kisah Yunani juga menjadi faktor yang digunakan Eropa untuk melegitimasi Kristen. Mitologi Yunani yang sarat dengan kisah dewa-dewi yang tampan dan cantik, jenius dan memiliki sistem teratur merupakan beberapa poin-poin legitimasi. Karakteristik Yunani kuno ini juga dijadikan wacana untuk membedakan Eropa dan Kristen dengan “saudara” Arya mereka di Asia, terutama di India. Walaupun Yunani kuno dan India memiliki kepercayaan yang sama terhadap dewa-dewi, namun dewa-dewi di India disebut aneh dan tidak indah. Selanjutnya, Masuzawa menulis bahwa Kristianitas tidak dapat diendus jejaknya hingga ke Palestina, permulaan nabi Yahudi – Kristianitas muncul dan berkembang di tanah yang subur bekas Helenisme[3]. Bisa dikatakan bahwa Kristianitas itu lebih Yunani, lebih Helenisme dan Aryan daripada Ibrani dan Arab.

Tentang Abraham Kuenen yang mengatakan bahwa Islam adalah Agama Bangsa Arab

Bila merujuk pada penelitian filolog mengenai agama yang universal, terlihat ada dua perkembangan agama dunia. Pertama adalah Budhisme sebagai universalisme bangsa Arya – ketika ia diadopsi oleh non-Arya ia berubah menjadi stagnan. Kedua adalah universalime dari agama Israel yang dianggap telah dibebaskan dan berkembang menjadi Gentile Christians, Kristen yang bukan Yahudi. Lalu bagaimana dengan Islam? Menurut versi Kuenen, Islam malah menurunkan “universalisme” dan mengungkungnya sebagai agama untuk orang Arab saja[4]. Mengenai perkembangan Islam hingga ke tanah Jawa, Kuenen menganggapnya itu hanya sebagai jubah. Islam tidak menjadi agama yang utama di Jawa, ia hanya menjadi jubah dari penggabungan antara Budhisme, Hinduisme dan Islam yang malah menjadi Jawanisme (abangan?). Kuenen dengan tegas mengatakan bahwa dalam Islam tidak ada bukti mengenai supremasi spritual.

Masuzawa mengaskan adanya anti-Semit dalam penelitian yang muncul pada akhir abad 19. Penelitian-penelitian anti-Semit tersebut memang halus, tapi bila diendus lebih dalam ada bau anyir yang menghembuskan ideologi anti-Islam. Misalnya, Masuzawa mengutip John Arnott MacCulloh sebagai contoh adanya anti-Semit ini. Dalam pembukaan Religion, Its Origin and Forms (1904), MacCulloh menulis bahwa Islam adalah agama ketakutan, bukan cinta. Islam digambarkan sebagai agama yang tidak toleran, fanatik dan tidak dapat berkembang.

Penelitian Otto Pfeiderer: Sufisme, Islamnya Bangsa Arya

Selaras dengan Kuenen, Otto Pfeiderer, teolog dari Jerman, tidak menganggap bahwa Islam adalah agama dunia. Pfeiderer berpendapat bahwa Islam itu tidak memiliki nilai-nilai spiritual dan bermusuhan dengan nilai-nilai “mobilitas”, “kemajuan” dan “kebebasan”[5]. Selanjutnya, Masuzawa memunculkan penelitian Pfeiderer tentang Sufisme.  Menurut Pfeiderer, Sufisme adalah ajaran Islam yang berasal dari Persia, masih bagian dari Bangsa Arya – Islamnya Arya, lebih ringkasnya. Ajaran Sufi dianggap lebih spiritual, ia mampu keluar dari dogma-dogma yang ada dalam Islam (Arab).

--
Masuzawa memperlihatkan kepandaiannya dalam meramu penelitian-penelitian tentang Islam ini. Dari penelitian Pfeiderer ini, Masuzawa mengajak pembacanya kembali melihat apa kaitannya legitimasi Eropa dengan bangsa Aryan. Semua agama dan ajaran yang masih keturunan Arya dianggap “bersahabat” dan “familiar” oleh peneliti-peneliti Eropa. Islam tidak disebut sebagai Agama Dunia karena ia tidak berasal dari ras Arya dan ia tidak membawa nilai-nilai universal dalam standar peneliti Eropa.

Kajian tentang Islam yang ditulis oleh peneliti-peneliti abad 19 ini tentu saja menyesatkan - seolah-olah ia tidak keluar dari pencarian legitimasi dengan mengandalkan keunggulan ras.







[1] Call it colonial expansion or the progress of modernity, this amounted to a monumental geopolitical shift, a large-scale change in the power relation between the Islamic domain and European Christendom. (Masuzawa, 2005: 180)

[2] Perhaps it was almost as though they could not imagine that something like Kantian idea of God – what Kant called the ideal of pure reason, qua postulate of reason, that is, as necessary guarantor of the knowledge and therefore of the possibility of science (Masuzawa, 2005: 188).
[3] Christianity in its essential being (as opposed to its historical beginning) is not to be traced back to Palestine as one of the many Jewish messianing seets; rather, Christianity emerged from the far richer soil of the late Hellenic world. (Masuzawa, 2005: 191)
[4] It was precisely Islam’s disregard for the universal that caused it to be succesfully imposed upon other nations
[5] It was Pfeiderer’s opinion that Islam was disqualified from designation as a world religion because of its abject poverty of spiritual substance and, again, its essential nature inimical to “mobility”, “development”, and “freedom”.  (Masuzawa, 2005: 200)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar