see no evil, hear no evil, say no evil

see no evil, hear no evil, say no evil

Rabu, 12 Maret 2014

Pengaruh Tontonan Eksotis dalam Imaji Budaya Sebuah Kajian Pasca Kolonial


Pengaruh Tontonan Eksotis dalam Imaji Budaya
Sebuah Kajian Pasca Kolonial
Oleh: Alexander Koko Siswijayanto

Pengantar
            Lahir dan besar di tanah Jawa adalah suatu keberuntungan. Saya mampu menikmati keindahan alam yang tak bisa digantikan oleh harta apapun juga. Setiap sore, di lereng Gunung Ungaran, masih terekam warna emas matahari yang malu-malu tenggelam di ufuk barat. Redupnya sang mentari dibarengi suasana mistis setiap kali saya duduk di salah satu bangunan Candi Gedong Songo. Hamparan Danau Rawa Pening menambah kekaguman seseorang yang sedang menikmati suasana di sana. Konon, Candi Gedong Songo itu didirikan pada abad ke-9 pada masa Wangsa Syailendra menguasi tanah Jawa ini. Dan kembali ditemukan oleh Raffles, Jendral terkenal dari Inggris yang menilik Jawa hanya selama lima tahun. Demikianlah seorang Jawa menikmati eksotisme alam, eksotistem peninggalan nenek moyang, dan sekaligus menikmati imaji sejarah masa lalu.
Candi Sari
            Pengalaman menikmati eksotisme alam dan keindahan bangunan masa lalu ternyata tidak berhenti. Di Yogyakarta dan sekitarnya, banyak sekali candi-candi yang berserakan menjadi bangunan yang mistis tetapi sekaligus terlalu touris. Orang datang ke candi dengan berbagai intensi, masih ada yang berdoa di sana, masih ada yang menikmati sebagai kekaguman masa lalu, tetapi banyak yang hanya ingin sekadar ber-rekreasi.
Eksotisme mungkin memang dicari sekaligus diburu. Perburuan eksotisme ini bukan hanya saat ini, tetapi sejak puluhan tahun yang lalu. Sejak Kolonial Belanda menjejakkan kaki di tanah Jawa ini. Kesadaran tentang perburuan eksotisme tanah jajahan semakin mendorong untuk menelusurinya lebih dalamketika saya membaca salah satu tulisan Marieke Bloembergen yang berjudul Colonial Spectacles.[1]Ternyata ada replika Candi Sari dibangun di Paris. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ada kisah sejarah yang terlalu diperdengarkan di Jawa ini. Mentalitas perburuan eksotisme tidak hanya terjadi saat ini oleh orang orang Jawa. Mentalitas perburuan eksotisme sudah terjadi jauh-jauh tahun sebelum diri ini ada. Pada jaman kolonial, mentalitas perburuan eksotisme telah ada dan mungkin setiap orang yang seperti saya ini hanyalah mewarisinya.
Bukan hanya candi, tetapi juga tari, patung, religi, dan kehidupan masyarakat di nusantara ini bisa menjadi objek buruan dari kolonial, karena memang eksotis di mata mereka. Tetapi, yang menarik adalah pertanyaan-pertanyaan: benarkah kaum kolonial Belanda yang mengangkat budaya-budaya di tanah air ini? Bagaimana relasi imaji eksotisme kolonial bertemu dengan realita budaya di nusantara? Dan tentu pertanyaan yang bagi saya lebih rumit tetapi menarik adalah apakah relasi antara mentalitas kolonial dan mentalitas kepribumian dalam budaya hanya satu arah, dari yang kolonial ke yang pribumi? Sketsa ini, tentu tidak akan lengkap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi, sketsa ini ingin menguraikan apa yang terjadi ketika eksotisme budaya menjadi tontonan dan bagaimana kini kita mencoba untuk merefleksikannya.

Orientalisme dan Perdebatannya
Adalah sesuatu yang tidak mungkin melupakan seorang ilmuwan Palestina dalam pembahasan mengenai imaji eksotisme kolonial. Tak salah lagi, dia adalah Edward Said. Dalam bukunya Orientalism, Edward Said merekonstruksi ulang istilah Orientalisme. Ada tiga definisi yang ia sebutkan dalam pengantar bukunya. Pertama, Orientalisme adalah suatu cara untuk memberi nama bagi dunia timur, berdasarkan tempat-tempat khusus di timur menurut pengalaman manusia Barat Eropa.[2] Di sini, dipahami bahwa orientalisme dilihat oleh para akademisi barat yang melihat dunia timur. Kedua, Orientalisme adalah suatu gaya berpikir yang berlandaskan pada pembedaan ontologi dan epistemologi antara ‘timur’ dan (hampir selalu) ‘barat’.[3] Istilah ini khusus dipakai oleh para akademisi di level universitet. Ketiga, Orientalisme dipahami sebagai sesuatu yang didefinisikan secara historis dan material dari pada kedua arti yang telah diterangkan sebelumnya. Dengan mengambil akhir abad kedelapan belas sebagai suatu batasan titik tolak yang nyata, Orientalisme dapat dibahas dan dianalisa sebagai lembaga hukumyang berurusan dengan dunia Timur – berurusan dengannya berarti juga membuat istilah-istilah tentangnya, mempunyai kuasa atas cara pandangnya, mendeskripsikannya, dengan mengajarinya, menempatinya, mengaturnya. Singkatnya, Orientalisme sebagai gaya barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai dunia timur.[4]Tujuan dari penulisan buku orientalisme adalah untuk menunjukkan bahwa budaya Eropa mendapatkan kekuatan dan identitasnya dengan menempatkan diri berhadapan dengan dunia Timur sebagai semacam pelindung.[5] Hal ini dapat dipahami bahwa buku ini ingin menunjukkan bahwa upaya “barat” dalam menjelaskan “timur” adalah upaya untuk menerangkan diri mereka sendiri.
            Orientalisme Said memang selalu diperbincangkan. Mungkin, karena istilah itu adalah suatu polemik yang ditembakkan ketika kekuasaan-kekuasaan penulis-penulis besar mulai dibongkar: sebuah serangan terhadap sejumlah besar karya para ilmuwan, pemikir, dan penulis di Eropa. Mereka ini adalah bagian dari usaha kolonialisme, begitu istilah dari Said. Mereka menghadapi hamparan yang hidup danada di luar lingkup mereka. Tetapi, karya-karya itu berusaha mengkerdilkan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka mencoba membentuk sebuah sejarah sendiri, yaitu sejarah kemenangan kolonial. Upaya ini kemudian dibungkus dengan istilah “Timur” dan “Barat”.[6]
            Ada tiga catatan yang perlu untuk disadari bagi orang yang merekonstruksi kembali Orientalisme a’la Said ini: Pertama-tama, perlu  dipahami bahwa sangatlah salah jika menarik kesimpulan bahwa dunia timur pada dasarnya adalah sebuah ide, atau suatu ciptaan tanpa bertautan dengan realita. Pada tahap kedua adalah bahwa ide-ide, budaya-budaya, sejarah-sejarah tak mungkin mampu dengan jeli ditangkap atau dipelajari tanpa kekuatan, atau lebih tepatnya pembentukan dari kekuasaan itu. Hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan kekuasaan, dominasi, hubungan berbagai derajat hegemoni yang kompleks. Dan yang ketiga, seseorang tak bisa menganggap bahwa struktur orientalisme tidak lebih daripada struktur kebohongan atau mitos-mitos belaka yang, seandainya kebenaran tentangnya diungkapkan, dengan mudah akan lenyap tertiup angin. Ada keyakinan bahwa orientalisme ini khususnya lebih bermanfaat sebagai suatu tanda kekuasaan Eropa atas dunia Timur daripada sebagai wacana murni mengenai Timur (sebagaimana yang didakwakannya dalam bentuk akademis dan ilmiah).[7]
            Dengan ungkapan yang lebih sederhana dapat dikatakan begini: Said menunjukkan bahwa “Eropa” memang butuh satu sosok yang berbeda agar ia bisa memperjelas identitasnya sendiri. Maka “Eropa” membentuk sebuah Sejarah dan peta yang secara esensial lain dan berlawanan. Orientalisme Said adalah sebuah kritik tetapi sekaligus sebuah polemik. Orientalisme terlalu bersemangat dalam “menggonggong” dan seringkali “gonggongannya” menunjuk ke arah yang salah dan meleset. Ia lupa bahwa hubungan antara yang terjadi antara barat dan timur tidak hanya hubungan kekuasaan semata yang satu arah. Ia tidak memberi kemungkinan sesuatu yang berbeda, bahwa di Eropa, “Timur” tak selamanya dilukiskan sebagai sesuatu yang harus diperadabkan. Tak selamanya yang eksotis itu harus diubah.
            Kritik Said tentu mengagumkan dan menjadi acuan banyak ilmuwan sekaligus peringatan untuk selalu berhati-hati dalam melihat barat dan timur. Bloembergen melihat adanya celah bukan dalam ide atau gagasan orientalisme tetapi dari sisi metodenya yang ahistoris.[8] Dia mengungkapkan bahwa teori-teori Said menciptakan permasalahan dalam kajian sejarah. Dua alasan yang saling berkaitan, dia sebutkan: pertama, Said tak lagi memberi ruang perubahan dalam imaji mengenai yang lain (other) yang sebenarnya berasal dari tempat, waktu dan individu khusus. Kedua, Said terlalu cepat meletakkan yang lain dalam kerangka relasi hubungan kekuasaan (hegemony). Padahal imaji barat atas dunia yang dikoloni tidak selalu dipandang dari sisi kekuasaan tetapi juga karena apa yang mereka perlihatkan berkaitan dengan cara pandang yang berlaku saat itu. Imaji sederhana atas yang lain pada abad sembilan belas memunculkan pertanyaan mengenai kealamian dan keaslian atas umat manusia, memunculkan pula pertanyaan berkaitan dengan relasi dan perbedaan antara masyarakat, ras, dan kelas sosial.[9]
            Berawal dari gagasan Said dan kritik dari Bloembergen inilah kemudian sejarah mengenai perburuan eksotisme akan diperlihatkan dalam kurun waktu sejarah sebagai suatu tontonan di Eropa. Bloembergen sadar bahwa untuk menelusuri relasi imaji eksotis begitu kompleks. Dia memberikan catatan awal yang penting untuk dipahami. Pertama, ada perubahan gagasan mengenai peradaban manusia di Eropa. Jika demikian imaji eksotis yang akan kita lihat bisa juga mempunyai perubahan dalam cara pandangnya. Kedua, terdapat relasi antara pemerintah kolonial dan budaya atau peradaban populasi pribumi di tanah koloni. Hal ini kemudian memunculkan kebijakan yang diperdebatkan mengenai asimilasi dan asosiasi.[10] Gagasan ini sangat erat tentunya dengan istilah “Budaya Eropa.”Ketiga. Ada relasi timbal balik antara imaji kolonial dan pemahaman orang Belanda atas dirinya sendiri. Ini menarik karena relasi yang dibangun adalah timbal balik. Bagaimana orang Belanda memandang budaya nusantara mempengaruhi bagaimana orang Belanda memahami diri sendiri.[11]
            Dari gagasan-gagasan di atas, kita akan memasuki ranah yang lebih konkret. Sebuah ranah sejarah dimana relasi imaji eksotis dari kolonial bertemu dengan realita eksotisme nusantara dan kemudian dijadikan tontonan di Eropa. Bagaimana hal ini kait mengkait secara lebih nyata akan diperlihatkan di bawah ini.

Imaji Eksotis dalam Tontonan Kolonial
“Sebuah tontonan yang luar biasa, meliputi arsitektur yang mengagumkan, kehidupan eksotis dengan aneka warna pemandangan alam, seni, budaya, dan kerajinan, serta flora dan fauna dari seluruh penjuru dunia ... Segala macam pesona seperti pesta malam dengan lampu terang-benderang, festival menunggang kuda, parade militer dan kelautan penuh dengan pertunjukkan teater, konser, film, kereta keliling, restoran, kare, kabaret, tempat minum teh, tempat menari, dan lain sebagainya, serta tentu sajakebun binatang modern. Pameran yang tiada bandingnya secara ekonomi, intelektual, dan sosial: seubah pameran yang akan menampilkan gambaran tentang dunia yang membangkitkan rasa hormat dan, pada saat yang sama, menyajikan panorama seluruh sejarah kolonialisme kita.”[12]
Kutipan di atas diambil dari salah satu iklan Surat Kabar “L’Echo de Paris” pada 6 April 1931. Iklan itu sekaligus adalah pengumuman bahwa saat pameran pengunjung akan memasuki petualangan indah di seluruh dunia. Poster-poster dan iklan-iklan pameran kolonial pada akhir abad sembilan belas dan awal paroh pertama abad dua puluh ingin menunjukkan suatu wisata/petualangan keliling dunia dalam sehari. Tontonan kolonial inilah yang terus menerus membangunkan imaji eksotis kolonial. Tontonan itu tidak hanya berlangsung sekali tetapi berkali-kali dalam rentang waktu antara tahun 1880an hingga tahun 1930an. Bloembergen menelusuri  lima tontonan kolonial dari tahun 1883 hingga tahun 1931. Tetapi, saya hanya memperlihatkan empat diantaranya sebagai tontonan yang penting untuk memperlihatkan perubahan imaji eksotisme. Secara sangat ringkas kita akan melihatnya satu persatu.
Pada 1 Mei 1883 di Amsterdam, tontonan kolonial internasional yang dibarengi dengan tontonan hasil perdagangan kolonial dibuka disuatu tempat dekat dengan Rijksmuseum. Selama lebih dari enam bulan, tempat itu, yang sekarang menjadi Museumplein, diubah menjadi pameran oriental. Pameran ini memberikan ilusi memasuki dunia lain yang kontras antara yang kolonial dan modern pada saat bersamaan.[13] Di sana ditampilkan tipe-tipe rumah-rumah penduduk asli yang dibuat dari bambu dan kayu. Bukan hanya itu, lukisan-lukisanpun ditampilkan. Boneka-boneka dari Suku Dayak antara pria dan wanita dijadikan replika kenyataan orang pribumi sebenarnya. Benda-benda antik dipajang, seperti: kain dari Hindia Belanda, logam-logam penemuan dari jaman kerajaan, pusaka-pusaka, dll. Lain dari itu, ada pula replika dari kemajuan yang dibuat oleh Kolonial Belanda terhadap Hindia Belanda. Di sana ada replika rel dan stasiun kereta api. Dibangun pula patung Jan Pieterszoon Coen sebagai perintis Kerajaan Kolonial Belanda. Ada pula monumen/tugu peringatan atas Perang Aceh.[14] Bloembergen menuliskan bahwa tontonan pada tahun ini mempunyai konsekuensi semakin menguatnya ikatan antara pusat dan daerah.[15] Artinya, ikatan antara Hindia Belanda dan Kerajaan Belanda dirasakan oleh orang-orang Belanda baik di Kerajaan Belanda maupun di daerah koloni menjadi semakin kuat. Ada suatu relasi yang timbal balik. Kebanggaan orang Belanda menjadi semakin besar.
Jika pada tahun 1883, pameran kolonial itu diadakan di Amsterdam dan memiliki efek intern dalam diri orang-orang Belanda sendiri. Pada tahun 1889 diadakan pula pameran kolonial di Paris. Di Paris ini, Kolonial Belanda memamerkan replika kampung-kampung Sumatera dan Jawa (village javanais). Bukan hanya rumah-rumah yang dipamerkan di sana, tetapi juga kesenian, musik dan tari.[16] Arti penting dari pameran ini menunjukkan bahwa sistem penjajahan belanda mementingkan nilai pendidikan yang dibarengi penelusuran dalam ranah antropologi dan didukung dengan administrasi kolonial yang baik. Orang-orang Belanda menganggap bahwa kampung adalah kunci bagi kehidupan orang-orang Jawa dan Sumatera.
Tahun 1900, kembali tontonan kolonial diadakan di Paris. Belanda memamerkan rekonstruksi Candi Sari, sebuah Candi Budha yang dibangun abad ke-9 di Jawa Tengah. Di dalamnya ada fragment Borobudur, Candi Sewu dan juga berbagai candi yang ada di Jawa. Candi Sari adalah piece de resistance dari Kolonial Belanda, dan sekali lagi menarik perhatian utama, seperti halnya kampung-kampung Jawa yang dipamerkan tahun 1889.[17]Pada pameran kali ini yang ingin dibanggakan oleh orang Belanda adalah penemuan-penemuan arkeologi di tanah jajahan mereka. Pada pameran ini sepertinya ada kompetisi kajian arkeologi. Belanda ingin menunjukan, sekali lagi, superioritasannya dalam hal arkeologi. Yang menarik diperlihatkan oleh Bloembergen bahwa rekonstruksi Candi Sari di paris ini tidak hanya dokumentasi perubahan perilaku negara kolonial dan individu-individu pribadi berhadapan dengan warisan budaya Hindu-Jawa, tetapi ini juga dokumen atas elemen-elemen yang berubah atas perilaku ini. Dua hal dipandang sebagai suatu penghormatan. Di satu sisi, adanya penghormatan terhadap nilai artistik dan historis secara intrinsik terhadap sesuatu yang antik. Di sisi yang lain, pentingnya warisan budaya bagi Belanda dan bagi koloninya.[18]
            Mulai 6 April hingga 6 November 1931 di Bois de Vincennes, sebelah Timur Paris, diadakan sebuah pertunjukan besar-besaran yang diberi judul: Exposition Coloniale Internationale. Mungkin, inilah pameran kolonial yang terbesar di Eropa. Bloembergen mengutip tanggapan pada saat itu dengan jelas:
“Estetika timur dan teknologi barat menyatu untuk menunjukkan kepada kita suatu negeri dongeng yang sedemikian kaya, beragam, dan begitu halus  yang sebenarnya tak pernah secuilpun mampir di pikiran kita.[19]
Kali ini, Belanda benar-benar memperlihatkan kekuatan manajerial dan juga kekuatan eksplorasi mereka atas negara terjajah. Bangunan Belanda di Paris pada tahun ini memperlihatkan sintesis yang sungguh kreatif. Seluruh konstruksi dibangun untuk melambangkan konsep gabungan antara kebudayan Timur dan Barat, bangunan ini penuh dengan hiasan dan sarat daya cipta.[20] Bangunan itu dibuka dengan gerbang a’la Pura Dalem, Sukasada, Bali. Di dalamnya ada gaya-gaya arsitektural Batak, Minangkabau. Tetapi ada juga patung-patung dari candi-candi yang ada di Jawa. Tetapi, yang menarik para pengunjung adalah perpaduan kreatif dengan gaya arsitektural Belanda sendiri yang ingin menciptakan gabungan antara yang otentik dan yang modern.[21]

Itulah secara amat sangat ringkas gambaran bagaimana orang Belanda melihat eksotisme budaya nusantara dan membawanya dalam Tontonan Kolonial Dunia. Tujuan utama Pameran Kolonial tersebut tentu adalah untuk mengungkapkan dan merayakan kekuatan politik dan kebudayaan Eropa yang mungkin telah menyentuh hingga ke sudut tergelap dan paling terbelakang bumi ini. Pameran itu berfungsi secara lebih eksplisit sebagai “alat propaganda pemerintah” daripada Pameran Dunia atau Pameran Internasional sebelumnya, seperti Pameran Industri yang mengagumkan di Crystal Palace, London pada 1851. Pameran seperti itu juga sangat menarik untuk memperlihatkan keberhasilan nasional secara berkala dan dengan tampilan yang mewah.[22]Dengan kata lain, tujuan Festival Kolonial ini adalah untuk memberikan kesadaran kepada khalayak akan kekuatan bangsa-bangsa penjajah dalam mendominasi penduduk asli, yang secara ironis merupakan peragaan nyata dari bentuk-bentuk kekuatan tak terkendali yang terpahat dalam bangunan, barang-barang maupun pertunjukkan.
            Yang menarik kemudian, orang-orang nusantara sendiri mulai sadar bahwa mereka menjadi objek pertunjukkan dan kemunculan perlawanan terhadap seluruh gagasan ini muncul. Gouda memberi gambaran dari sebuah kutipan novel berkaitan dengan antipati terhadap festival ini:
“Saya adalah seorang dari Timur, salah satu dari yang sedang dipamerkan sebagai un peuple Indonesien (orang indonesia)... Jiwa dan raga saya serta yang terhormat rekan-rekan saya yang berkulit berwarna telah diinjak-injak dan telah dinodai: mereka telah ditelanjangi di hadapan orang-orang beradab kulit putih. Saudara-saudara, andaikan orang-orang kulit putih dipajang di pameran seperti ini pada sebuah Pameran di Timur (Indonesia), jika Anda diminta untuk bertelanjang, memasak ular dan dipaksa makan-makanan yang sudah berbau busuk, tidakkah jiwa Anda akan terasa sakit dan seakan-akan disayat-sayat” Andaikan saja Pameran ini berlangsung di Timur, tentu saja akan menjadi abu dan asap sebelum mulai dibuka, karena kita orang-orang Timur tidak akan menunggu lama sebelum kita melakukan tindakan. Bukankah Francois (seorang petualang dari Sosialis Prancis) sendiri yang mengatakan: lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan hari ini, jangan menunggu sampai besok? Apakah Anda, kamerad-kamerad, menggunakan nama Sosialis hanya sebagai topeng, sementara perbuatan Anda tidak jauh berbeda dari orang-orang borjuis itu?”[23]
pameran-pameran itu sedikit banyak memang kemudian membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan orang-orang Indonesia pada saat itu. Gouda mencatat bahwa setelah itu muncul perlawanan yang sedemikian nyata oleh orang-orang Indonesia dalam tulisan-tulisan majalah Timboel antara tahun 1920an.[24]

Pengaruh Eksotisme dan Kesadaran yang Terbangun
            Jelajah tontonan kolonial ini memberikan kesadaran bahwa ada yang membekas dari mentalitas perburuan eksotis dan antik dari Belanda. Jejak-jejak tontonan itu kemudian diadopsi di Indonesia menjadi Taman Mini di Jakarta.[25] Kisah pembentukan Taman Mini Indonesia Indah sebenarnya terjadi secara sederhana. Dalam perjalanan mengunjungi Disneyland di California pada 1971, Ny. Soeharto (Ibu Tien) tersentak bagaikan petir, oleh sebuah inspriasi untuk membangun sebuah taman yang dapat melambangkan “Indonesia Indah” dalam bentuk mini. “Impian Disneyland” Ibu Soeharto itu kemudian terwujud menjadi kenyataan pada Hari Perempuan Internasional tahun 1975. Ditemani sahabatnya, Imelda Marcos dari Filipina dan dipublikasikan secara luas, Ibu Soeharto meresmikan Taman Mini dengan meriah.[26]
            Analisis terhadap perburuan dan pertunjukan eksotisme ini memperlihatkan imaji kolonial; bukan hanya memperlihatkan gambaran segala sesuatu yang ada di koloni tetapi juga menggambarkan bagaimana pembuat imaji itu sendiri membentuk dirinya.[27] Kajian pasca kolonial tidak hanya memperlihatkan pengaruh relasi represif tunggal antara penjajah dan yang dijajah. Tetapi, ternyata ada juga pengaruh relasi timbal balik antara yang menguasai dan yang dikuasai.
            Apa yang saya sadari dari pembahasan mengenai perburuan dan tontonan eksotisme ini? Pertama, sangat mungkin bahwa kegemaran orang untuk melihat yang spektakuler dan menciptakan yang spektakuler merupakan konstruksi dan warisan dari penjajahan Belanda. Sesuatu yang spektakuler itulah yang dicari oleh orang. Jika tidak spektakuler tidaklah menarik. Ini pula yang menghiasi media-media saat ini. Spektakuler adalah yang dicari dan diburu oleh media, karena dalam kandungan hasrat manusia terkonstruksi hasrat meraih yang spektakuler. Kedua, yang spektakuler itu terkait dengan sesuatu yang lain (other). Terkait sesuatu yang belum pernah atau jarang didengar. Hal-hal yang eksotis adalah sesuatu yang lain dari kehidupan yang biasa. Seringkali, orang mencari yang eksotis bukan karena hal itu otentik atau asli tetapi hanya karena itu berbeda dengan kehidupan biasa. Ketiga, perburuan eksotisme dan yang dimunculkan dalam tontonan juga berkaitan dengan otentisitas. Belanda menampilkan sesuatu yang eksotis tetapi sekaligus otentik. Ada perang politik kolonial memang di sana, dimana Belanda bersaing dengan para penjajah lain di Eropa guna memperlihatkan siapa yang mampu menguasai tempat atau hal yang paling otentik. Persaingan Candi Sari (Kolonial Belanda) dan Angkor Wat (Kolonial Perancis) memperlihatkan hal ini. Perburuan otentisitas ingin menunjukan mengenai identitas diri. Bagi saya sendiri, penelusuran yang otentik seringkali disalah mengerti. Cara berpikir Kaum Kolonial menunjukkan bahwa yang otentik adalah yang paling tua umurnya, yang paling awal. Sepertinya yang awal itu bisa diraih. Bukankah dalam Kajian Pasca Kolonial, Homi Bhabha sudah mengkritisi hal ini bahwa budaya itu hibrid.[28] Ada percampuran dari sana sini dalam kurun waktu sejarah. Benar-benar menelusuri untuk mencari yang asli adalah sesuatu yang mustahil. Jika demikian, saya memahami bahwa identitas diri, baik individu maupun kelompok tertentu, tak  bisa ditunjuk dengan jari tetapi dalam proses itu sendiri. Dalam proses itulah kemudian orang mengenal identitas dirinya. Belanda mengenal diri dalam proses perburuan imaji eksotis budaya. Demikianpun Indonesia menemukan jati dirinya dalam prosesnya menelusuri sejarahnya termasuk sejarah bersama kaum Kolonial.

Penutup
Akhirnya, dalam memori historis indonesia, kebenaran tentang keabsahan penjajahan Belanda mungkin tidak menyenangkan dan gelap, tetapi tidak sekadar berfungsi sebagai tempat berkembangnya dendam kesumat. Makna mutakhir tentang masa lalu kolonial mungkin ada di wilayah tengah yang remang-remang dan abu-abu. Masa pemerintahan kolonial Belanda yang panjang masih tetap berdampak pada Budaya Indonesia masa kini, masa kolonial itu dihayati dengan perasaan campur aduk, bervariasi antara dendam sampai tak peduli, tergantung kebutuhannya. Sementara dalam historiografi nasionalis resmi, kolonialisme Belanda sering digambarkan sebagai “inkarnasi setan”, dalam bayangan warga Indonesia kebanyakan, Belanda mungkin sedikit lebih menyerupai singa “ompong” daripada singa yang mengaum keras. Tetapi, bagaimanapun juga penelusuran terhadap sejarah kolonial merupakan faktor penting dalam pencarian identitas kebangsaan. Bagaimanapun, membangun bangsa baru yang mandiri merupakan tugas yang sangat besar. Imaji-imaji eksotis, otentik, hibrid baik yang ada dibenak orang-orang Belanda ataupun dalam benak orang-orang Indonesia memberi jejak-jejak berkaitan dengan bagaimana identitas itu dirumuskan. Di sini saya hanya ingin memperlihatkan salah satu imaji eksotis yang mempengaruhi orang-orang Belanda. Saya sadar bahwa masih terbuka “situs-situs” imaji yang lain yang mampu memperkaya bagaimana peneluran jejak bangsa ini bisa terjadi.
           


Daftar Pustaka

Aschroft, Bill, dkk. 1998. Key Concepts in Post-Colonial Studies. London: Routledge
Bhabha, Homi K.. 1994. The Location of Culture. London: Routledge
Edward Said. 1978. Orientalism. London: Penguin Books.
Frances Gouda. Dutch Culture Overseas; Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. terj: J. Soegiarto dan S.R. Rusdiarti. Jakarta: Serambi.
Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press






[1]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Buku ini akan menjadi bahan utama dalam tulisan ini.

[2]“Orientalism, a way of coming to terms with the Orient that is based on the Orient’s special place in European Western experience.” Lihat: Edward Said. 1978. Orientalism. London: Penguin Books. Hlm. 1
[3]“Orientalism, is a style of thought based upon an ontological and epistemological distinction made between ‘the orient’ and (most of the time) ‘the occident’”.ibid. hlm. 2
[4]I come to the third meaning of Orientalism, which is something more historically and materially defined than either of the other two. Taking the late eighteenth century as a very roughly defined starting point Orientalism can be discussed and analyzed as the corporate institution for dealing with the Orient-dealing with it by making statements about it, authorizing views of it, describing it, by teaching it, settling it, ruling over it: in short, Orientalism as a Western style for dominating, restructuring, and having authority over the Orient.”ibid. hlm. 3
[5]“... to show that European culture gained in strength and identity by setting itself off againts the orient as a sort of surrogate and even underground self.”ibid. hlm. 3
[6]Goenawan Mohamad menuliskan gagasan Orientalisme dari Said secara cukup indah dalam Catatan Pinggirnya.
[7]ibid. hlm. 5-6
[8]“One key problem with Said’s research is his ahistorical method.” Lihat: Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 5
[9]ibid hlm. 6
[10]asimilasi adalah pembaruan dua kebudayaan atau sudut pandang untuk memunculkan kebudayaan baru. Asosiasi lebih pada kerjasama antar dua sudut pandang atau kebudayaan tanpa menghilangkan identitas dari kebudayaan masing-masing. Saya tidak akan membahasnya lebih dalam karena fokusnya bukan di sana.
[11]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 7
[12] Frances Gouda. Dutch Culture Overseas; Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. terj: J. Soegiarto dan S.R. Rusdiarti. Jakarta: Serambi. Hlm. 351
[13]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 51
[14] Perang Aceh sudah dimulai sejak tahun 1873 walaupun baru berakhir pada tahun 1914.
[15]Ibid. hlm. 101
[16]ibid. hlm. 107-108. “a gamelan with dancing girls … on a larger scale than had been seen at exhibitions thus far.” Ibid hlm. 124
[17]ibid. hlm. 164
[18]“The reconstruction of the Candi Sari in Paris not only documents the changing attitudes of the colonial state and private individuals to the cultural heritage of Hindu-Javanese antiquity, but it also documents the whimsical elements of these attitudes. The growing appreciation had two distinct side to it – an ppreciation of the special intrinsic historical and artistic value of the antiquities on the one hand, and an interest in the significance of this cultural heritage to the Netherlands and its colony on the other.” Ibid. hlm 197.
[19]Ibid. hlm. 269
[20] Frances Gouda. Dutch Culture Overseas; Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. terj: J. Soegiarto dan S.R. Rusdiarti. Jakarta: Serambi. Hlm. 345
[21]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 296
[22] ibid. Hlm. 15
[23] Frances Gouda. Dutch Culture Overseas; Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. terj: J. Soegiarto dan S.R. Rusdiarti. Jakarta: Serambi. Hlm. 395-396
[24] ibid. Hlm. 365
[25]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 7
[26] Frances Gouda. Dutch Culture Overseas; Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. terj: J. Soegiarto dan S.R. Rusdiarti. Jakarta: Serambi. Hlm. 407
[27]Marieke Bloembergen. 2006. Colonial Spectacles; The Netherlands and the Dutch East Indies at World Exhibitions, 1880-1931. trans: Beverly Jackson. Singapore: Singapore University Press. Hlm. 318
[28]gagasan hibriditas Homi Bhabha ditemukan dalam: Homi K. Bhabha. 1994. The Location of Culture. London: Routledge dan Bill Aschroft , dkk. 1998. Key Concepts in Post-Colonial Studies. London: Routledge


Tidak ada komentar:

Posting Komentar